Saturday, October 1, 2016

Kritik Terhadap Pendidikan Indonesia



<a target="_blank" href="http://www.Vecteezy.com/">
Free Vector Art by www.vecteezy.com</a>
Sudah lebih dari 8 tahun Sejak anak kami memasuki usia sekolah, kami sangat concern dengan kualitas pendidikan formal di Indonesia. Sebagai keluarga Kristen, kami secara natural berharap anak-anak kami memasuki sebuah sekolah Kristen. Sampai hari ini kami belum menemukan satu sekolah pun di mana kami merasa bisa fully trust and confident dengan sistem dan kualitas pendidikannya. Concern kami meliputi demikian banyak aspek mulai dari kurikulum pendidikan Indonesia, kualitas guru bahkan leadership dan management sekolah yang tidak sesuai dengan harapan kami tentang pendidikan yang excellent.

Karena situasi keluarga kami yang sering berpindah-pindah, kami mendapat kesempatan untuk “mencicipi” berbagai sekolah. Sejak 2007 sampai 2016, anak pertama kami sudah memasuki 5 sekolah yang berbeda-beda. Pertama kami memilih sebuah sekolah internasional di Jawa Timur untuk Taman Kanak-Kanak, kemudian pindah ke sebuah sekolah internasional Kristen di Jawa Barat mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. Setelah itu dari grade 3 sampai selesai grade 6 anak pertama kami bersekolah di sekolah Kristen di United States dan Canada. Terakhir ketika kami kembali ke Tanah Air, kami memasukkan anak kami ke sebuah sekolah swasta Kristen di Jawa Timur untuk memasuki kelas 7. 

Perpindahan terakhir ini rupanya sangat berat untuk anak pertama kami, dia mengalami shock culture di sekolah yang terakhir ketika dia memasuki grade 7. Shock yang tidak pernah terjadi sebelumnya, di mana dia selalu eager untuk explore sekolah yang baru.
Shock culture ini meliputi berbagai hal. Mulai dari bahasa, cara guru mengajar dan peraturan-peraturan sekolah yang kurang memahami filosofi pendidikan, kurikulum dan buku-buku pelajaran nasional yang sangat tidak menarik untuk dibaca.
Sebagai orang tua, kami juga merasa sangat shock dengan kualitas pendidikan di Indonesia. Anak kami mengalami bersekolah di luar negeri selama sekitar 4 tahun, ternyata itu sudah cukup untuk membuat kami melihat betapa lemahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Kami mendapat kesempatan untuk merasakan bagaimana sekolah swasta di luar negeri yang sangat baik di dalam melaksanakan pendidikan. Kami merasa bisa mempercayakan anak-anak kami kepada pendidikan sekolah. Kami merasa sangat bahagia melihat anak berangkat ke sekolah dengan gembira dan penuh semangat, kemudian pulang ke rumah di sore hari dengan penuh cerita tentang betapa menyenangkan sekolah hari itu. Dengan kualitas dan profesionalisme guru sangat tinggi, kurikulum yang baik, kami merasa tenang mengirim anak kami ke sekolah karena kami percaya anak-anak kami ditangani dan dididik oleh guru-guru yang smart dan excellent.

Melihat ke tahun-tahun sebelumnya ketika kami di Indonesia, concern kami dimulai ketika anak kami masuk kelas 1 SD di sekolah Internasional Kristen yang cukup ternama di Jawa Barat. Kami perhatikan sekolah itu mulai menerapkan akselerasi di pelajaran matematika mereka. Pelajaran kelas 1 sd ditambahi dengan pelajaran untuk kelas 2, pelajaran kelas 2 ditambahkan dengan pelajaran kelas 3, semikian seterusnya. Terlihat sekali anak kami sangat struggling dengan matematika. Dasar-dasar matematika seperti penambahan dan pengurangan tidak pernah mantap, dan harus segera moving on kepada topik matematika selanjutnya yang lebih advance sebelum dasar-dasarnya terbentuk dengan kuat. Anak kami selalu mengalami kefrustasian ketika harus membuat PR di rumah, kami pun frustasi karena merasa anak kami tidak diajar dengan baik. Kalau sekolah mengajar dengan baik, mengapa anak kami kesulitan membuat PR-PR nya? Kami tidak mau anak kami harus les karena pulang sekolah adalah waktu dia istirahat, bermain dan menikmati waktu bersama keluarga. Concern berikutnya adalah masalah anak kami diberikan tugas-tugas atau pertanyaan-pertanyaan di PR yang tidak sesuai dengan usia perkembangan kognitifnya. Misalnya pada waktu dia kelas 1 SD, diberikan pertanyaan-pertanyaan abstrak yang membuat dia tidak bisa memikirkan jawabannya sendiri. Akibatnya orang tua harus membantu menjawab untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Menurut kami, akhirnya itu menjadi merusak maksud dari pemberian tugas itu. Bukankah tugas itu adalah untuk anak kami, bukan untuk orang tuanya? Tidak membantu anak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu juga bukan solusi yang tepat, karena poblemnya bukan pada anak kami, tetapi pada pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh gurunya. Keluhan-keluhan senada bukan dialami oleh kami saja, tetapi di Indonesia keluhan-keluhan ini sudah menjadi langganan untuk didengar dari berbagai orang tua teman-teman kami yang  menyekolahkan anaknya di berbagai sekolah swasta di Indonesia. Ketidakmampuan sekolah/ guru memahami perkembangan kognitif anak sehingga memberikan tugas-tugas yang tidak sesuai dengan usia anak, sangat menjadi problem.

Ketika kami akhirnya pindah ke United States untuk memasukkan anak kami ke grade 3, kami secara khusus menemui guru kelasnya untuk request supaya anak kami dibantu lagi membangun fondasi matematikanya yang sangat lemah. Kami sedih melihat anak kami tidak menyukai pelajaran matematika di Indonesia. Kami ingin anak kami enjoying school bukan sekedar hanya karena aspek sosialisasinya, tetapi kami ingin anak kami menikmati setiap subject yang dia pelajari di sekolah. Kami ingin anak kami mengalami joy of learning! itu harapan kami ketika menyekolahkan anak-anak kami. Hari itu hari ke-2 kami sampai di Amerika, masih jet lag dan masih sangat kelelahan dengan perjalanan yang menghabiskan hampir 20-30 jam dari Indonesia. Kami mengajak anak kami untuk menengok calon sekolah yang akan dimasukinya. Hari itu ketika kami pikir masih sekedar jalan-jalan dan survey sekolah baru, ternyata anak kami tidak mau ikut pulang ke rumah. Sesudah guru kepala sekolah mengajak kami tour berkeliling sekolah, anak kami langsung memutuskan untuk masuk sekolah hari itu juga, dia tidak membawa tas, peralatan tulis dan buku apapun. Bahkan bajunya pun tidak kami siapkan untuk masuk sekolah hari itu.  Yang sangat berkesan, sekolah mengijinkan anak kami masuk hari itu, tanpa pusing mengurus berbagai birokrasi atau test penerimaan masuk sekolah. Mata anak kami berbinar-binar melihat sekolah yang baru. Hati kami dipenuhi sukacita melihat antusiasme anak kami. Sejak hari itu, tidak sekalipun kami melihat anak kami frustasi mengerjakan PR. Dia selalu berangkat sekolah dengan penuh antusiasme, dia menikmati setiap tugas-tugas yang diberikan. Tidak pernah orang tua harus mengerjakan PR-PR anak, atau me-leskan anak karena masih kesulitan mengejar pelajaran sekolah. Guru-guru sangat profesional, manajemen sekolah sangat profesional dan rapi. Di pertengahan tahun ajaran guru kelas memberitahu kami bahwa anak kami termasuk di dalam sebagian anak yang kemampuan matematikanya lebih advance sehingga dia mendapat pelajaran tambahan khusus bersama dengan anak-anak lain yang lebih advance.  It was the best school experience for all of us. Setelah dua tahun setengah tinggal di Amerika, kami pindah ke Canada dan anak kami juga dengan penuh antusias memasuki sekolah yang baru meskipun dia sedih harus berpisah dengan teman-teman di Amerika. Proses perpindahan itu terjadi di pertengahan kelas 5, tetapi transisi berjalan dengan smooth sampai anak kami menyelesaikan kelas 6.

Kembali kepada cerita perpindahan kami kembali ke Indonesia, dengan kontrastnya, setelah bersekolah selama sebulan lebih, anak pertama kami semakin menunjukkan ke engganan untuk berangkat ke sekolah. Kami bisa melihat dia kehilangan semua antusiasme dia mempelajari berbagai subject di sekolah. Dia merasa tidak bisa mengerjakan matematika, dia tidak tertarik dengan pelajaran Art yang biasa sangat digemarinya, dia merasa bosan dengan pelajaran sejarah. Cahaya di matanya meredup memikirkan tentang dia harus masuk sekolah lagi the next day. Pulang sekolah dia kelihatan lesu dan kelelahan, dan masih harus belajar untuk ulangan-ulangan dan PR yang demikian sering diberikan. Semakin hari anak kami semakin terpuruk semangatnya dan pada satu titik dia sama sekali mogok tidak mau sekolah. Kami berusaha persuasi dia tetapi in the same time, kami tidak punya confident untuk memaksa anak kami masuk sekolah yang dia tidak sukai.  Kami sebagai orang tua juga mulai mendapat banyak surprise seperti tugas-tugas mendadak sepulang sekolah yang mengharuskan orang tua harus pergi berbelanja untuk keperluan tugas sekolah keesokan harinya. Situasi yang semakin tidak baik membawa kami kepada keputusan untuk menarik anak kami dari sekolah dan dengan sangat berat hati melakukan homeschool sebagai satu-satunya pilihan di dalam situasi ini.

Blog ini kami buat dengan kerinduan supaya sekolah-sekolah di Indonesia meningkatkan kualitas pendidikan dan guru-guru. Guru-guru dan leadership sekolah haruslah mendapat training yang proper untuk bisa menjadi guru yang kompeten dan juga leadership yang kompeten untuk menyelenggarakan pendidikan. Kesejahteraan guru harus diperhatikan, sehingga orang-orang smart dan kreatif di negara kita mau bekerja menjadi guru karena gaji yang baik. Hanya dengan guru-guru yang super smart dan berkualitas, maka pendidikan anak-anak kita juga bisa ditingkatkan kualitasnya. Bukankah kita selalu mencari guru-guru les yang terbaik kalau kita mau me-les kan musik atau keterampilan-keterampilan lain untuk anak-anak kita? Kenapa kita tidak mencari guru-guru yang terbaik untuk sekolah anak-anak kita? Apakah sekolah di Indonesia sudah direduksi sedemikian rupa dengan hanya formalitas untuk mendapatkan ijazah untuk jenjang pendidikan berikutnya?

Apabila kita browsing di internet, terlihat sekali level kualitas guru-guru di luar negeri jauh di atas guru-guru kita pada umumnya di Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang mempelajari filosofi pendidikan dengan sangat profesional. Kreatifitas mereka sungguh luar biasa di dalam mengajar. Banyak dari mereka mengerti bagaimana mengajar dengan kreatif sehingga tidak heran anak-anak di luar negeri menikmati sekolah sedemikian rupa. Apabila merujuk kepada Benjamin Bloom’s Taxonomy. Guru-guru adalah harus orang-orang yang sudah memasuki Higher Level of Thinking, karena kalau tidak, guru-guru tidak akan pernah bisa mengajarkan Higher Level of Thinking kepada anak-anak kita. Anak-anak kita hanya akan berhenti di Lower Level of Thinking, bahkan terburuk mereka hanya akan berhenti di “Remembering”, yaitu step terendah di Lower Level of Thinking dari Bloom’s Taxonomy.

Sekolah Indonesia harus meningkatkan kualitas guru-guru. Guru-guru harus memahami apakah Hakekat Seorang Guru untuk menjadi pendidik yang baik dan berkualitas. Sekolah harus meningkatkan kualitas leadership dan management karena mereka adalah orang-orang penentu keputusan pendidikan di sekolah. Kami sangat rindu anak-anak kami bisa kembali bersekolah. Sekolah di Amerika dan Canada selalu membuat anak-anak kami gembira, kita di Indonesia kalau mau belajar dan meningkatkan standard seharusnya juga bisa. Sekolah tidak boleh mengkompromi kualitas guru karena berharap untuk menekan pengeluaran gaji guru dan meningkatkan profit bisnis sekolah.

Last but not least, pendidikan informal adalah salah satu concern terbesar di dalam pendidikan Indonesia. Ketika kita semua mengirim anak-anak ke sekolah, teman-teman anak-anak kita adalah kumpulan dari produk-produk informal education. Pendidikan karakter anak-anak Kristen adalah tanggung jawab orang tua, bukan tanggung jawab sekolah. Dari beberapa interview kami dengan leadership sekolah-sekolah, rata-rata semua mengeluh betapa banyak sekolah mengalami problem karena orang tua/ keluarga tidak mengambil peran utama mereka di dalam pendidikan karakter anak-anak mereka. Orang tua Kristen harus mengerti Dasar Pendidikan Keluarga Kristen dan tidak boleh hanya menyerahkan pendidikan karakter anak kepada sekolah. Pendidikan anak adalah tanggung jawab mereka pribadi kepada Tuhan.

Sampai hari ini, tahun ke-2 kami melakukan homeschool untuk dua anak kami. Selama kami mengajar anak-anak kami di rumah, tidak terkira betapa bersyukurnya kami akan anugerah Tuhan yang luar biasa. Melalui kesulitan dan kesusahan hati kami melihat anak-anak tidak mau sekolah, ternyata ada sukacita ketika kami berinteraksi dengan mereka di dalam proses belajar dan mengajar. Melihat mereka kembali menikmati setiap pelajaran yang dipelajari, science, math, art & craft, music, language art, history… semua adalah berkat Tuhan yang besar. Kesempatan melakukan pendidikan yang excellent untuk anak-anak kami di tengah-tengah keterpurukan kualitas pendidikan di Indonesia.

Demikianlah akhirnya tercipta Blog ini, Christian Parents And Teachers Center. Satu blog yang kami harapkan menjadi window untuk para orang tua Kristen, guru-guru Kristen dan leadership sekolah-sekolah Kristen yang sungguh-sungguh mau belajar menjadi orang tua Kristen dan sekolah Kristen di Indonesia yang berkualitas.

May Our Lord Bless us through our journey to be an excellent Christian parents and teachers,

Maria Angelika Yang
(a wife, a mother of two beautiful gifts from heaven, a homeschool teacher)


No comments: