Saturday, September 3, 2016

Mempersiapkan Diri Menjadi Ibu




1Inilah perkataan Lemuel, raja Masa, yang diajarkan ibunya kepadanya.  2Apa yang akan kukatakan, anakku, anak kandungku, anak nazarku?  3Jangan berikan kekuatanmu kepada perempuan, dan jalanmu kepada perempuan-perempuan yang membinasakan raja-raja.  4Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras, 5jangan sampai karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas.  6Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati.  7Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya.  8Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana.  9Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka.
Amsal 31:1-9

Berita kehamilan adalah salah satu berita yang ditunggu-tunggu oleh istri secara umum.  Adalah suatu kebahagiaan yang luar biasa ketika diketahui bahwa diri menjadi hamil.  Istri biasanya tidak sabar akan kasih tahu suami bahwa dirinya sedang mengandung anak mereka.  Di dalam kebahagiaan yang meluap itu tersimpan juga rasa takut yang besar. 
Rasa takut khususnya pada kehamilan pertama memenuhi benak ibu karena ada begitu banyak hal yang tidak diketahui, ada banyak kemungkinan kesulitan, dan bahkan bisa menyebabkan kefatalan dalam hidup baik bayi yang dikandung maupun diri yang sedang mengandung.  Ada beban yang berat karena ada seorang anak kecil yang hidupnya bergantung atas hidup diri sendiri.  Apa yang dimakan, juga akan memberi efek langsung kepada bayi, apa yang diminum juga demikian, apa yang dihirup, apa yang dialami, semuanya akan berakibat langsung kepada bayi yang ada di kandungan.  Tanggungjawab yang besar itu langsung menjadi nyata dalam sekejap mata.  Maka secara naluriah ibu akan bersiap-siap untuk semua hal yang dibutuhkan supaya proses kehamilan boleh berjalan lancar, bayi sehat, dan proses kelahiran pula boleh berjalan dengan sangat baik.  Ibu mulai membaca semua buku yang berisi informasi penting tentang kehamilan dan kelahiran.  Ibu mulai merencanakan hal-hal detil mulai dari pakaian bayi, ranjang bayi, sampai semua alat-alat yang akan membantu menyusui dan lain-lain.  Ibu pulalah yang paling sadar untuk segera pergi ke dokter obgyn untuk mengecekkan diri dan bayi.  Lalu ibu akan sangat peduli akan apa yang dimakannya dan vitamin apa yang harus diambilnya.  Begitu banyak informasi yang harus dipahami dan dimengerti dalam waktu singkat.  Maka ibu akan mulai memberi perintah kepada suami untuk siapkan ini dan itu.  Lebih rumit lagi prosesnya kalau ibu adalah wanita karir, yang mana proses cuti dan rencana ke depan semua tidak gampang diselesaikan.

Bagi keluarga yang mampu, biasanya ada pembantu dan sudah berencana untuk membayar jasa suster ketika anak lahir.  Bagi sang ibu hal tersebut akan sangat membantu dirinya dan juga supaya suami boleh lebih konsentrasi kepada pekerjaannya.  Sehingga suami akan lebih terbatasi perannya dalam ikut serta dalam persiapan kelahiran tersebut.  Belum lagi biasanya orang tua istri akan ikut bergairah dan terlibat lebih banyak akan persiapan kelahiran cucu mereka.  Baik juga sebenarnya jika bisa ada bantuan dalam mempersiapkan sehingga boleh mereduksi stress yang ada.  Tetapi kadang kala kesibukan persiapan sangatlah penting untuk persiapan mental ibu dalam membesarkan anak.  Jika sudah terbiasa dibantu maka ketajaman mental ibu akan terhalangi.  Saya pribadi menyarankan untuk mengurangi bantuan persiapan dengan jasa pembantu atau suster.  Sebisa mungkin prsiapan yang berkenaan langsung dengan diri dan bayi adalah ditangani sendiri untuk mempertajam mental ibu.  Selama bisa mempersiapkan, maka sang ibu akan persiapan.  Karena akan tiba waktunya dimana sang ibu akan kesulitan sekali, yaitu dimana ibu mengalami morning sickness yang parah, kehamilan yang sulit, sulit makan dan minum, dan lain sebagainya.  Belum lagi ketika tiba di trimester yang terakhir dimana sang ibu akan mulai makan dengan sangat banyak dan tubuh menjadi sangat berat dan susah bergerak.  Maka fokus sang ibu biasanya adalah pada persiapan kebutuhan fisik baik untuk diri sendiri sebab akan berakibat langsung kepada bayi, maupun untuk bayi segera setelah lahir, yaitu kebutuhan pakaian, tempat tinggal, dan makanan.  Dalam pikiran sang ibu, dalam masa-masa ini, jarang memikirkan hal-hal spiritual yang akan dibutuhkan anak.  Biasanya konsentrasinya sepenuhnya ada pada pertumbuhan fisik anak.  Ini adalah kecenderungan alamiah seorang ibu.

Amsal 31:1-9 mengajarkan kepada kita bahwa ibu berperan sangat penting dalam pertumbuhan spiritual anaknya.  Maka seharusnya persiapan untuk menjadi ibu juga mengikutsertakan persiapan untuk menjadi pendidik spiritual bagi anak.  Jika disadari bahwa pada masa 9 bulan kehamilan itu adalah bukan masa terbaik dalam menyiapkan diri menjadi pendidik spiritual anak, termasuk masa 2 tahun setelah anak lahir, maka langkah yang terbaik adalah untuk menyiapkan diri jauh sebelumnya.  Yaitu bahkan ketika anak perempuan lahir sudah harus dipersiapkan oleh orang tuanya untuk memiliki spiritualitas yang baik.  Sang ibu sebelum menjadi ibu, sebelum ada berita kehamilan, sudah seharusnya menjadi murid Tuhan dan belajar firman Tuhan dengan giat serta mempraktekkan pengajaran di Alkitab dalam hidup sehari-hari.  Hanya mereka yang pernah menjadi murid boleh nantinya mengajar orang lain.  Karena dengan demikian ibu boleh mengerti dengan sungguh-sungguh apa yang harus dipahami oleh anak-anaknya di dalam mengikut Tuhan.  Ibu dari Lemuel ini mengajarkan sari kehidupan untuk anaknya boleh menjadi seorang yang adil, suatu kualitas yang utama dalam menjadi raja.  Ibu Lemuel tidak bisa mengajari Lemuel keadilan tanpa sendiri mengerti mengenai keadilan.  Itu sebab ibu Lemuel ini bisa mengajar Lemuel sampai pada level detil mengenai prinsip keadilan.  Dan pengertian ini tidak didapat dalam waktu 9 bulan.  Pengertian ini bertumbuh seumur hidup mulai sejak bayi.  Persiapan menjadi pengajar spiritual ini jauh lebih sulit daripada persiapan fisik.  Dalam persiapan fisik, intensitasnya akan menurun ketika sang anak sudah mulai bisa lebih mandiri.  Contoh, ketika anak sudah bisa makan makanan seperti makanan orang dewasa, maka disitulah ibu tidak lagi perlu menyediakan makanan khusus untuk anaknya.  Sehingga untuk mempersiapkan makanan tidak perlu dua kali persiapan.  Dengan kata lain, intensitas persiapan makanan untuk anak akan menurun seiring dengan waktu.  Tetapi intensitas pendidikan spiritual tidak akan pernah turun.  Justru akan makin meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya.

Disini menjadi ibu bukan hanya menyediakan kebutuhan fisik anaknya.  Kebutuhan spiritual juga harus dipenuhi.  Memang banyak kemungkinan kesulitan dan komplikasi yang dapat terjadi, misal jika anak sakit atau ada kondisi tertentu.  Saya tidak mau meremehkan hal itu semua, karena kesulitan dan komplikasi adalah hal yang nyata yang sangat mungkin sekali terjadi.  Yang hendak saya tekankan disini adalah jangan sampai karena mendesaknya kebutuhan fisik maka kebutuhan spiritual akhirnya dikesampingkan.  Disini saya hendak mengajak semua ibu, calon ibu, khususnya yang akan melahirkan anak dalam beberapa bulan ke depan, termasuk para perempuan yang beraspirasi menjadi ibu bagi anak-anaknya, untuk dengan serius memikirkan pemenuhan kebutuhan anak secara holistik.  Diri perlu diperlengkapi dan dipersiapkan untuk boleh menjadi pengajar spiritual yang seperti dimaksudkan di Alkitab, disamping juga menyediakan kebutuhan fisik bagi anak.  Dengan demikian ibu boleh bertanggungjawab di hadapan Tuhan dan menyelesaikan tugasnya yang mulia untuk mendidik anak-anaknya di dalam ajaran Tuhan.

No comments: