Showing posts with label Fondasi Keluarga Kristen. Show all posts
Showing posts with label Fondasi Keluarga Kristen. Show all posts

Saturday, September 3, 2016

Mempersiapkan Diri Menjadi Ayah






Mempersiapkan diri menjadi principal pendidikan perlu merekatkan diri pada resources yang berotoritas dan dapat dipercaya.  Alkitab adalah standar untuk iman dan hidup Kristen yang benar.  Maka mempersiapkan diri menjadi ayah mengharuskan ayah menjadi murid Kristus yang giat mempelajari firman Tuhan yang hidup.  Dengan sendiri menjadi murid, maka diri tahu apa itu artinya berjalan di jalan Tuhan.  Dengan demikian ayah boleh menuntun anak berjalan dalam jalan Tuhan.  Bila anak mengalami kesulitan dalam aplikasi iman dan hidup Kristen, maka ayah ada di sana untuk membantu, mengarahkan, mencegah, dan memberi semangat.  Persiapan pada level ini jauh lebih susah dari persiapan dalam level kebutuhan fisik.  Sebab seharusnya persiapan untuk hal ini adalah perlu dipersiapkan sejak anak laki-laki lahir di satu keluarga.  Persiapan akan menjadi jauh lebih intens dan serius ketika sungguh-sungguh ada konfirmasi kehamilan istri.  Kebiasaan yang justru mencegah ayah ikut campur dalam persiapan kelahiran anak adalah kesalahan fatal. 

Mempersiapkan Diri Menjadi Ibu




Tuesday, August 30, 2016

Ibu Rumah Tangga atau Wanita Karir?


Mendidik Anak Bertanggungjawab


Mendidik Anak Bersyukur


Relasi antara Saudara Kandung




1Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN."  2Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani.  3Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; 4Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya,  yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 5tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.
Amsal 31:10-31

Kisah Kain dan Habel adalah kisah yang boleh menjadi pelajaran bagi kita semua supaya kita tidak memperlakukan saudara kandung kita seperti Kain memperlakukan Habel.  Kemarahan Kain terhadap Habel sebetulnya tidaklah rasional.  Karena Habel tidak melakukan apa-apa yang salah terhadap Kain.  Kain bertindak ekstrim terhadap Habel karena Kain iri terhadap adiknya.  Seharusnya Kain meredam iri hati dia, dan bahkan meredam kemarahan hatinya, dan tidak melampiaskan kejengkelannya kepada Habel.  Apalagi Habel tidak melakukan kesalahan apa-apa terhadap Kain.

Monday, August 29, 2016

Mengarahkan Pergaulan Anak



Mengarahkan Pergaulan Anak

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.
1 Korintus 15:33

Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.
Amsal 13:20

34Mereka tidak memunahkan bangsa-bangsa, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada mereka,
35tetapi mereka bercampur baur dengan bangsa-bangsa, dan belajar cara-cara mereka bekerja.
36Mereka beribadah kepada berhala-berhala mereka, yang menjadi perangkap bagi mereka.
37Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat,
38dan menumpahkan darah orang yang tak bersalah, darah anak-anak lelaki  dan anak-anak perempuan mereka, yang mereka korbankan kepada berhala-berhala Kanaan, sehingga negeri itu cemar oleh hutang darah.
39Mereka menajiskan diri  dengan apa yang mereka lakukan, dan berzinah dalam perbuatan-perbuatan mereka.
40Maka menyalalah murka TUHAN terhadap umat-Nya, dan Ia jijik kepada milik-Nya  sendiri.
Mazmur 106:34-40

Sejak orang Israel keluar dari Mesir, Tuhan sudah berulang kali mengingatkan supaya mereka tidak bercampur dengan orang-orang di Kanaan.  Ini bukan masalah toleransi atau tidak toleransi dalam hidup masyarakat  yang majemuk.  Ini adalah masalah pengaruh buruk.  Pada masa itu penyembahan berhala ada di semua bangsa yang lain.  Hanya bangsa Israel yang mengenal Allah yang benar.  Cara hidup orang zaman itu ditentukan oleh penyembahan kepada allah mereka.  Pola penyembahan, pengertian mengenai allah mereka, konsep persembahan, dan lain sebagainya adalah dasar dari kehidupan mereka baik secara individu maupun secara sosial.  Kalau allah nya tidak beres maka hidup mereka pun tidak beres.  Karena hanya Tuhan lah Allah yang sejati, maka hanya orang Israel sajalah yang menjalankan kehidupan yang beres.  Allah menjaga kehidupan umatNya sedemikian pelanggaran terhadap hukumNya selalu menemui pengadilan Allah.  Tetapi bangsa-bangsa lain tidak demikian.  Mereka beroperasi di bawah allah yang tidak bisa bicara, yang tidak bisa melihat, yang tidak bisa mendengar, yang tidak bisa berjalan, maka hati mereka adalah hati yang mati.  Dan kepada kehidupan yang sedemikianlah Allah melarang umatNya bercampur.

Saturday, August 27, 2016

Memelihara Minat dan Bakat Anak


26Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."  27Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah  diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.  28Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
Kejadian 1:26-28

20Ada itu melahirkan Yabal; dialah yang menjadi bapa orang yang diam dalam kemah dan memelihara ternak. 21Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling.  22Zila juga melahirkan anak, yakni Tubal-Kain, bapa semua tukang tembaga dan tukang besi.  Adik perempuan Tubal-Kain ialah Naama.
Kejadian 4:20-22


Yang pertama tahu tentang minat bakat anak biasanya adalah orang tua.  Adalah suatu berkat dan anugerah yang besar untuk boleh menyaksikan penemuan minat bakat anak.  Maka langkah pertama bagi orang tua adalah untuk membuka wawasan diri mengenai kemungkinan minat bakat anak akan boleh menjadi apa saja.  Misalkan jika anak mulai mencoret-coret kertas dengan garis-garis yang menimbulkan sensasi gambar seni, maka ini bukan berarti anak pasti akan menjadi pelukis.  Mungkin anak nantinya bisa jadi pelukis.  Tetapi masih ada begitu banyak kemungkinan lain.  Misalnya saja, anak mungkin bisa menjadi arsitek, atau desainer interior, atau illustrator buku, atau desainer grafis, atau desainer fashion, atau kurator karya seni, atau fotografer, atau desainer produk, atau bahkan profesi lain yang tidak secara langsung meutilisasi keahlian menggambar ataupun melukis.  Atau ketika anak terlihat sangat aktif kesana kemari dan tidak suka duduk membaca buku, maka ini bukan berarti anak tidak punya bakat apapun atau anak tidak pandai. 

Baby Sitter or No Babysitter



 6Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 7haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.  8Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 9dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Ulangan 6:6-9

Perintah Tuhan kepada Musa adalah supaya para orang tua mendidik anak-anaknya.  Tanggungjawab pendidikan anak ada di pundak orang tua, bukan pada orang lain.  Orang tua harus menyadari bahwa setiap interaksi anak dengan lingkungannya atau dengan orang di sekitarnya selalu memiliki potensi pendidikan.  Pengertian ini diperjelas oleh John Dewey dalam diksusi soal educative dan miseducative experience.  Tetapi sebetulnya Konghucu sudah pernah mengatakan perihal pengaruh ini yaitu ketika Konghucu mengatakan bahwa ketika dia berjalan dengan dua orang, dua orang tersebut menjadi seperti guru bagi dia, tetapi Konghucu mengambil yang baik dan belajar darinya, dan membuang yang buruk.  Aplikasi pengajaran Konghucu sangat berguna bagi mereka yang sudah memiliki pikiran yang solid seperti Konghucu sendiri.  Implikasi ajaran Konghucu adalah bahwa anak-anak yang notabene belum punya pikiran yang solid, tidak akan bisa menyortir pengaruh baik atau buruk, tetapi semakin muda anak justru akan mengabsorbsi semuanya baik ataupun buruk.  Maka karena ada dua macam educative experience, yang pertama yang educative (yang baik) dan yang kedua adalah miseducative (yang buruk), orang tua tidak boleh membiarkan anak dipengaruhi hal yang buruk.  Oleh karena itu orang tua perlu memperhatikan pengalaman macam apa yang kira-kira akan anaknya alami?  Termasuk apakah anaknya akan “diasuh” oleh babysitter (suster) atau tidak.

Peran Ibu dalam Mendidik Anak



8Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu 9sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu.
Amsal 1:8-9

Ibu memiliki posisi yang sangat penting di dalam pendidikan anak.  Ajaran ibu menjadi dasar penting bagi perkembangan hidup seseorang.  Jika ibu memberikan pendidikan yang tidak benar maka anakpun akan tumbuh dengan tidak benar.  Kedekatan ibu dan anak adalah suatu kedekatan yang muncul secara alami dimulai sejak anak berada dalam kandungan ibu.  Dari proses kehamilan sampai kelahiran hingga anak mulai bertumbuh sampai usia remaja, anak cenderung lebih dekat kepada ibu.  Ibu memang memiliki afeksi yang mendalam kepada anak-anaknya karena aspek kedekatan fisik dan emosi yang ditimbulkan sejak kehamilan.  Afeksi yang dalam ini membuat ibu memiliki keunggulan dan keunikan di dalam mendidik anak-anaknya.  Ibu secara umum lebih sabar di dalam mendidik dan memberikan pengajaran kepada anak dibanding dengan ayah.  Kesabaran ini memberi atmosfir yang nyaman dan menyenangkan bagi anak di dalam proses belajar mereka.  Kesabaran juga menyebabkan ibu rela untuk mengajar dalam waktu lebih lama dan lebih rela untuk menyederhanakan apa yang diajarkannya.  Implikasinya adalah pengajaran ibu lebih mudah diterima oleh anak.  Walaupun ada implikasi negatifnya, seringkali kepositifannya lebih kiat dari kenegatifannya, atau paling tidak anak tidak mempersoalkan kenegatifannya.

Peran Ayah dalam Mendidik Anak

 
1Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah , dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, 2karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku.3Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak, lemah dan sebagai anak tunggal bagi ibuku, 4aku diajari ayahku, katanya kepadaku: "Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.
Amsal 4:1-4

Ayah memiliki peran yang sangat penting di dalam pendidikan anak.  Di tengah zaman modern ini dimana kebutuhan dapur dan meja makan menjadi nomor satu, ayah seringkali absen dari pendidikan anak.  Ayah bangun pagi sekali untuk berangkat bekerja.  Pagi jauh sebelum anak bangun.  Dan sepanjang hari ayah bekerja.  Larut malam ayah baru pulang dari bekerja.  Waktu ayah sampai di rumah anak sudah tidur.  Setiap hari kerja anak tidak pernah bertemu dengan ayah.  Tidak ada interaksi antara ayah dan anak.  Waktu akhir minggu ayah baru bisa bertemu dengan anak.  Dan pada saat itu ayahpun ingin libur dari bekerja.  Kebanyakan hanya ingin bersenang-senang.  Maka interaksi ayah dan anak hanya terjadi sebatas bersenang-senang.  Makan di resto, main di mall, nonton bioskop, belanja, dan seterusnya.  Tetapi tidak terjadi interaksi serius dimana ada proses pendidikan yang sungguh-sungguh terjadi.  Tidak ada transfer pengetahuan dan keahlian, apalagi transfer pandang semesta (world view) dari ayah kepada anak.  Tidak juga ada proses pembentukan karakter anak yang dikerjakan oleh ayah.  Sebab sepanjang ayah pergi, biasanya ibu yang memang peran penting di dalam pendidikan anak.  Tetapi jika melihat laju kehidupan modern ini, bahkan ibu pun tidak ada di rumah.  Karena baik ayah dan ibu, dua-dua nya pergi bekerja.  Anak-anak di rumah bersama dengan inang pengasuh saja.  Kalau anak sudah usia sekolah, maka anak menghabiskan 7-8 jam di sekolah bersama orang lain yang kita sebut secara formal sebagai guru.  Padahal otoritas utama dan pertama dan alamiah diberikan Tuhan kepada orang tua.  Tetapi struktur kehidupan modern membuat ayah absen dari kehidupan anak.

Friday, August 26, 2016

Dasar Pendidikan Anak




1Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.  2Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.  4Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu , tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
Efesus 6:1-4

Pendidikan anak di dalam keluarga Kristen diperintahkan oleh Tuhan untuk dikerjakan oleh para orang tua.  Anak-anak perlu dididik di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.  Ada satu tujuan penting di sana yang mengharuskan pendidikan anak berada pada jalur pengajaran Tuhan.  Anak-anak adalah milik Tuhan.  Dan Tuhan mencipta mereka dengan tujuan yang mulia seturut dengan rencanaNya secara khusus dalam kehidupan mereka.  Secara mendasar setiap manusia diciptakan Allah seturut gambar dan rupa Dia.  Maka setiap manusia seharusnya hidup sesuai dengan natur dasar mereka yang merefleksikan karakter dan keagungan Allah.  Anak-anak yang dilahirkan di dalam keluarga Kristen secara khususnya diberikan hak istimewa untuk dididik oleh orang tua mereka sesuai dengan wahyu Tuhan dan ajaran Dia yang sudah dinyatakan di dalam Alkitab.  Tanggungjawab orang tua adalah memastikan bahwa anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang menuntun mereka di jalan Tuhan.

Identitasku Sebagai Suami




25Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.  28Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.  29Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30karena kita adalah anggota tubuh-Nya.  31Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Efesus 5:25-31

Siapakah suami?  Apa yang harus dilakukan sebagai suami?  Bagaimanakah suami harus bersikap terhadap istri?  Rahasia ini disingkapkan oleh Alkitab supaya para suami menghidupi identitas diri yang benar.  Dunia tidak mengetahui rahasia ini.  Yaitu bahwa dari awal Tuhan memang sudah mendesain laki-laki sedemikian rupa untuk mengambil posisi sebagai suami terhadap perempuan yang menjadi istrinya.  Kata yang dipakai untuk suami dan istri adalah menggunakan bentuk tunggal.  Sehingga hanya boleh ada satu suami untuk satu istri.  Implikasi dari desain dari Tuhan ini adalah bahwa hanya boleh ada satu suami dan satu istri yang dipersatukan Allah di dalam satu keluarga.  Maka poligami adalah penyimpangan karena dosa.  Kedua adalah bahwa hanya laki-laki boleh menjadi suami bagi istri yang adalah perempuan.  Di dalam bahasa asli Alkitab, baik Ibrani dan Yunani, kata untuk laki-laki sama dengan kata untuk suami, demikian juga kata untuk perempuan sama dengan kata untuk istri.  Dunia ini sudah menjadi kacau sekali sehingga orang tidak lagi memahami prinsip ini.  Ada perempuan menikah dengan perempuan, satu menjadi suami yang satu menjadi istri.  Ada laki-laki menikah dengan laki-laki, yang satu menjadi suami yang lain menjadi istri.  Ini adalah penyimpangan karena dosa.

Identitasku Sebagai Istri


22Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.  Dialah yang menyelamatkan tubuh.  24Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
Efesus 5:22-24

Siapakah istri?  Apa yang harus dilakukan sebagai istri?  Bagaimanakah istri harus bersikap terhadap suami?  Rahasia ini disingkapkan oleh Alkitab supaya para istri menghidupi identitas diri yang benar.  Dunia tidak mengetahui rahasia ini.  Yaitu bahwa dari awal Tuhan memang sudah mendesain perempuan sedemikian rupa untuk mengambil posisi sebagai istri terhadap laki-laki yang menjadi suaminya.  Kata yang dipakai untuk suami dan istri adalah menggunakan bentuk tunggal.  Sehingga hanya boleh ada satu suami untuk satu istri.  Implikasi dari desain dari Tuhan ini adalah bahwa hanya boleh ada satu suami dan satu istri yang dipersatukan Allah di dalam satu keluarga.  Maka poligami adalah penyimpangan karena dosa.  Kedua adalah bahwa hanya perempuan boleh menjadi istri bagi suami yang adalah laki-laki.  Di dalam bahasa asli Alkitab, baik Ibrani dan Yunani, kata untuk perempuan sama dengan kata untuk istri, demikian juga kata untuk laki-laki sama dengan kata untuk suami.  Dunia ini sudah menjadi kacau sekali sehingga orang tidak lagi memahami prinsip ini.  Ada perempuan menikah dengan perempuan, satu menjadi suami yang satu menjadi istri.  Ada laki-laki menikah dengan laki-laki, yang satu menjadi suami yang lain menjadi istri.  Ini adalah penyimpangan karena dosa.

Dasar Pendidikan Keluarga Kristen




1"Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, 2supaya seumur hidupmu  engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.  3Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan  TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.  4Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  5Kasihilah TUHAN, Allahmu , dengan segenap hatimu  dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.  6Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 7haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.  8Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 9dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Ulangan 6:1-9

Sebelum semua konten pendidikan yang lain dan semua metode pendidikan dan semua model pembelajaran dilaksanakan dengan penuh kesungguhan di keluarga, satu hal yang paling penting yang mendasari pendidikan keluarga Kristen adalah ayat ke-empat dari perikop di atas.  Mengasihi Tuhan Allah di atas segala-galanya adalah fondasi utama pendidikan keluarga Kristen.  Kasih kepada Allah menopang semua prinsip kehidupan yang akan menjadi pegangan dan kekuatan pertumbuhan karakter, intelek, moral, sosial, dan spiritual dari setiap anggota keluarga.

Seperti kita semua ketahui dan secara intuisi sadari, hak pertama dan utama untuk mendidik anak adalah diberikan kepada orang tua.  Seiring dengan orang tua terus berada di dalam pendidikan Tuhan, maka anak berjalan di dalam bimbingan orang tua.  Tidak dapat dipungkiri bahwa metode belajar yang paling dipakai dan siap dipakai oleh semua orang pada semua level usia adalah metode meniru.  Maka konsekuensinya adalah anak pasti akan meniru hal-hal yang tertangkap olehnya yang secara umum akan didapat dari orang tuanya.  Meniru ini tidak dapat dihalangi oleh apapun.  Anak menangkap sesuatu gerakan misalnya, dan dia akan langsung menirukan.  Anak menangkap satu kata dan dia akan langsung menirukan.  Demikian juga dengan pikiran, perbuatan, sikap, kebiasaan, dan lain sebagainya, pasti akan ditiru oleh anak.  Dengan demikian secara otomatis terjadilah pendidikan.  Tetapi sebelum seorang bisa menjadi “guru” yang baik, maka dia harus menjadi murid yang baik dulu.  Jika “guru” hendak mengajarkan mengenai kasih kepada Tuhan yang benar, maka “guru” haruslah terlebih dahulu belajar mengasihi Tuhan yang benar.  Maka murid nantinya akan meniru kasih guru kepada Tuhan.  Jika guru adalah orang tua, maka bagaimanakah anak meniru orang tuanya?